Bangkrut = Sekarat


Sesungguhnya segala sesuatu itu adalah Rabb pemiliknya.

Susah-senang, Bahagia-sengsara, Sehat-sakit, Perniagaan lancar-bangkrut semua dariNya, dan milikNya.

Seseorang yang sakit parah adalah mendekati sekarat,

Orang sekarat adalah mendekati mati.

Mati akhirnya meninggalkan semua.

Bila seseorang sakit; saudara, tetangga berdatangan menjenguk (ditempat saya masih begitu), apalagi bila sakit keras semakin banyak orang datang yang datang, semakin banyak orang yang mendo’akan akan kesembuhanya. Begitu besar perhatian akan sesorang yang mendekati mati, bahkan ada tetangga yang menjenguk dan berkata: “mumpung masih sempat, siapa tahu besok dia meninggal”. Syukur sesungguhnya atas solidaritas sesama manusia atau sesama tetangga masih bisa berbagi paling tidak untuk saling mendo’akan.

Rasul bersabda: “Kefakiran mendekatkan pada kekapiran”

Pernahkah terbayangkan kita bertetangga dengan orang kafir? Atau perdulikah kita apabila tatangga kita menjadi kafir?

Sebuah fakta hasil dari suatu penelitian membuktikan bahwa penyebab terbesar dari fenomena bunuh diri adalah stress menghadapi kesulitan ekonomi.

Apakah bangkrut salah satu dari penyakit?

Bila perjalanan usaha yang lancar tiba-tiba menjadi terkendala macet, itu adalah tandanya penyakit datang, dia sudah termasuk golongan orang sakit.

Semakin macet, semakin parah dan mendekati bangkrut, bila sudah bangkrut semuanya menjadi susah, semua tekendala dan tidak bisa berjalan dengan baik bahkan tidak bisa jalan sama-sekali. Sekarat, tidakkah ini berarti orang sedang sekarat. Keluarga terabaikan, penampilan tak terurus, anak isteri terlantar, pergaulan terkucilkan, anak buah meninggalkan, yang berhutang lari sembunyi, yang menghutangi semakin rajin menagih.

Sekarat, bukankah ini berarti sekarat?

Haruskah kita peduli? Atau masih pantaskah kita berujar sambil berlalu “ah… gak usah ikut pusing, senangnya saja kita gak pernah diajak-ajak?!”

Bilasaja kita biarkan; satu keluarga menjadi terlantar, bahkan bukan tidak mungkin ada banyak keluarga lain yang ikut terlantar, pekerjanya mungkin. Semoga saja kuat imanya dan berpegang teguh pada tali-Nya bila tidak bisa saja menjual iman kepada materi atau bahkan mungkin saja membunuh diri.

Kepada orang yang sudah dalam keadaan begini haruskah kita ziarahi?

Tak perlukah kita turut berdo’a semoga lancar kembali?

Atau

Mengapa kita harus meninggalkan dan mengkucilkanya?

Ah…. sungguh semuanya tidak adil kurasa.

Mengapa kepada orang yang cuma sakit disentri kita berbondong-bondong berziarah dan berdo’a, tapi

Mengapa kepada orang yang jatuh bangkrut kita hanya mencibir dan berujar “sukurin deh, kalau begitu kan aku punya teman dalam kesusahan”

Rabb, teguhkanlah iman, tambahkanlah sabar kepada hamba-hambaMu yang Kau coba dengan kebangkrutan ekonomi! Dan jauhkanlah hamba dari keadaan sedemikian!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Archives

%d bloggers like this: